Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa Bibit Siklon Tropis 93S yang terdeteksi di Samudra Hindia Selatan Nusa Tenggara memiliki potensi untuk menjadi siklon tropis dalam waktu dekat. Prediksi ini menunjukkan bahwa badai yang berasal dari Bibit Siklon Tropis 93S dapat menjadi ancaman serius bagi daerah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Erma menyatakan pentingnya kewaspadaan terhadap badai Senyar yang diperkirakan akan mendarat di Nusa Tenggara Timur antara 1 dan 10 Januari 2026. Ia mengingatkan masyarakat untuk mengambil langkah mitigasi sebelum badai datang, mengingat siklon tropis dapat menimbulkan dampak yang signifikan.
Prakiraan ini didasarkan pada sistem KAMAJAYA-BRIN yang dirancang untuk mitigasi cuaca ekstrem. Dengan alat ini, para ahli dapat memprediksi pola cuaca submusiman hingga musiman yang mungkin melanda Indonesia, mengingat cuaca seringkali tidak dapat diprediksi secara akurat.
Pentingnya Memahami Dampak Cuaca Ekstrem
Dampak cuaca ekstrem, seperti siklon tropis, dapat mengakibatkan kerusakan yang parah baik dalam hal fisik maupun ekonomi. Wilayah yang terkena badai sering kali mengalami kerusakan infrastruktur, penutupan sekolah, dan evakuasi penduduk.
Di banyak daerah, para penduduk akrab dengan siklus cuaca, tetapi tidak semua mampu menanggapi dengan cepat ketika situasi darurat tiba. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai cuaca ekstrem menjadi prasyarat penting bagi masyarakat, terutama di daerah rawan.
Selain itu, pihak otoritas lokal perlu meningkatkan sosialisasi mengenai langkah-langkah yang harus diambil saat badai mendekat. Dengan pengetahuan yang memadai, masyarakat akan lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk dan melakukan tindakan pencegahan.
Analisis Terhadap Bibit Siklon Tropis 93S
Dalam analisis lebih lanjut, Erma menggambarkan Bibit Siklon Tropis 93S sebagai sistem yang masih kecil, dengan potensi lebih rendah untuk menjadi siklon yang serius dibandingkan dengan Bibit Siklon Tropis 91S. Namun, bukan berarti bahwa dampaknya dapat diabaikan.
Sistem ini tetap memiliki kemampuan untuk mempengaruhi cuaca lokal, terutama di Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Fenomena ini menjadi perhatian penting bagi peneliti dan masyarakat karena dapat menyebabkan hujan ekstrem dan angin kencang.
Secara geografis, pola cuaca menunjukkan bahwa perairan di sekitar Indonesia mempunyai potensi untuk mengembangkan badai. Khususnya, perairan di timur yaitu Laut Flores dan wilayah sekitarnya lebih mungkin untuk terjadi badai yang berbahaya.
Upaya Mitigasi oleh Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau untuk segera melaksanakan upaya mitigasi. Ini diperlukan agar potensi kerusakan dapat diminimalkan, terutama sebelum badai muncul.
Berbagai langkah, seperti penyediaan tempat pengungsian dan distribusi informasi mengenai cara bertindak saat badai terjadi, sangat penting dilakukan. Dengan strategi yang efektif, risiko terhadap penduduk dapat berkurang.
Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mencapai seluruh lapisan masyarakat. Edukasi dan pelatihan secara berkala perlu ditingkatkan agar masyarakat tahu dan bisa melakukan tindakan yang tepat saat keadaan darurat.













