Hasil riset terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa suhu di Surabaya, Jawa Timur, diprediksi akan meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan. Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat dampak yang dapat ditimbulkan terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pakar klimatologi dari BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan bahwa tren panas ekstrem di Surabaya tidak hanya bersifat sementara, tetapi akan terus berlanjut. Ini menjadi ancaman bagi ekosistem dan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.
Data yang diambil dari Personal Weather Station (PWS) selama dua tahun terakhir mencatat suhu maksimum mencapai 40 derajat Celsius. PWS merupakan alat yang memungkinkan pengukuran cuaca secara akurat dan real-time, memberikan gambaran jelas tentang perubahan suhu di berbagai lokasi.
Setiap lima menit, data dari PWS diperbarui, sehingga memberikan informasi terkini mengenai cuaca. Informasi ini sangat penting untuk memahami pola temperatur serta merespons perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.
Dalam pernyataannya, Erma menekankan bahwa Surabaya adalah salah satu kota yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, dengan prediksi kenaikan suhu maksimum yang mencolok. Riset ini dinilai sangat penting untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai dampak perubahan iklim di masa depan.
Peningkatan Suhu di Surabaya Akan Mencapai 5 Derajat Celsius
Riset yang dilakukan oleh BRIN memanfaatkan model iklim CCAM (Conformal Cubic Atmospheric Model) untuk memproyeksikan kenaikan suhu di kawasan Surabaya Raya. Kawasan ini mencakup Surabaya, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, dan Bangkalan.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2050, suhu di wilayah Surabaya Raya dapat mengalami kenaikan lebih dari 5 derajat Celsius. Ini adalah peningkatan yang signifikan dan bisa berdampak luas, terutama bagi sektor pertanian dan kesehatan masyarakat.
Menurut Erma, hasil riset ini mendukung bahwa perubahan iklim telah menjadi masalah serius yang membutuhkan perhatian lebih. Dengan meningkatnya suhu, risiko terjadi bencana terkait cuaca juga semakin tinggi, seperti kekeringan dan banjir.
Penelitian ini tidak hanya fokus pada Surabaya tetapi juga memperhitungkan dampak pada kota-kota sekitarnya yang berpotensi mengalami perubahan serupa. Riset ini menyoroti pentingnya kolaborasi antar daerah dalam menangani isu perubahan iklim.
Erma menambahkan bahwa publikasi riset ini diharapkan dapat menarik perhatian pemerintah dan masyarakat untuk lebih sadar akan isu-isu perubahan iklim yang sudah di depan mata. Kesadaran ini sangat diperlukan untuk menghasilkan aksi nyata bagi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan tersebut.
Data dan Metodologi yang Digunakan dalam Penelitian
BRIN menggunakan data dari beberapa sumber untuk menjamin akurasi riset yang dilakukan. Salah satu sumber utama adalah pengukuran dari PWS yang akurat dan dengan frekuensi tinggi. Alat ini menyediakan data real-time yang sangat berharga untuk analisis iklim.
Pada riset ini, metode downscaling model iklim CCAM diterapkan untuk mendapatkan proyeksi yang lebih detail, khususnya untuk area Surabaya Raya. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melihat kemungkinan perubahan suhu hingga tingkat yang lebih lokal.
Model iklim CCAM dikenal luas dalam komunitas ilmiah karena kemampuannya dalam menghasilkan proyeksi yang lebih spesifik. Hal ini menjadikan model ini relevan untuk pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi meteorologis di Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Pemanfaatan teknologi modern dalam pengukuran suhu juga menjadi nilai tambah bagi riset ini. Data yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan oleh pihak berwenang dan peneliti lain dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pengumpulan data melalui PWS semakin meningkatkan cakupan informasi yang tersedia. Ini adalah langkah positif dalam memberdayakan komunitas untuk lebih berperan aktif dalam penelitian lingkungan.
Dampak Perubahan Suhu terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Meningkatnya suhu di Surabaya tidak hanya akan mempengaruhi kenyamanan hidup, tetapi juga kesehatan masyarakat. Panas ekstrem dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti heat stroke dan dehidrasi yang lebih sering terjadi.
Selain itu, sektor pertanian yang merupakan tulang punggung ekonomi lokal dapat menerima dampak signifikan. Perubahan suhu dapat mempengaruhi pola tanam dan hasil panen, yang berarti risiko gagal panen juga semakin meningkat.
Di sisi lain, ekosistem sekitar seperti flora dan fauna juga dapat terganggu akibat perubahan suhu yang drastis. Beberapa spesies mungkin tidak mampu beradaptasi dengan cepat, sehingga ada risiko kehilangan keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Komunitas juga perlu bersiap untuk menghadapi perubahan yang akan datang. Ini termasuk melakukan edukasi tentang perubahan iklim kepada masyarakat agar mereka lebih sadar dan beradaptasi dengan kondisi baru yang mungkin terjadi.
Adanya kebijakan pemerintah yang berfokus pada pengurangan emisi karbon dan peningkatan kesadaran lingkungan pun sangat penting. Langkah-langkah ini bisa membantu meredakan dampak perubahan iklim yang sudah dan akan terus berkembang di masa depan.















