Bibit Siklon Tropis 91S telah berubah menjadi Siklon Tropis Luana pada hari ini, memberi dampak signifikan bagi wilayah di sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyampaikan peringatan kepada masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang menyertai fenomena ini.
Siklon Tropis Luana muncul pertama kali di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat pada 21 Januari lalu. Kini, sistem ini berada di Samudra Hindia selatan Laut Sawu, dengan kekuatan yang cukup mengkhawatirkan bagi beberapa daerah.
Lokasi terkini dari Siklon Tropis Luana adalah di 16,4 LS dan 122,1 BT, berjarak sekitar 640 km dari Rote. Tekanan atmosfer yang tercatat sangat rendah, mencapai 991 hPa, sementara kecepatan angin maksimal mencapai 45 knots atau setara 85 km/jam.
Dampak yang Ditimbulkan oleh Siklon Tropis Luana
Menurut BMKG, siklon ini diperkirakan akan bergerak menjauhi wilayah Indonesia ke arah tenggara dengan kecepatan 11 knots atau 20 km/jam. Meskipun demikian, dampak tidak langsung seperti curah hujan yang signifikan dan gelombang tinggi pun mungkin akan terjadi.
Peringatan khusus dikeluarkan untuk masyarakat yang berada di pesisir. Mereka diimbau untuk berhati-hati terhadap kemungkinan hujan lebat dan angin kencang yang mungkin merusak.
Wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak cukup luas, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah bagian timur. Siklon ini membawa risiko tambahan berupa gelombang tinggi yang dapat mencapai enam meter di beberapa area.
Potensi Daerah Terdampak dan Risikonya
Pemerintah mengeluarkan daftar spesifik mengenai daerah yang berpotensi mengalami cuaca buruk. Hujan lebat diprediksi akan menghampiri Nusa Tenggara Timur, sedangkan angin kencang akan menyentuh Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, serta beberapa wilayah lain.
Bukan hanya angin kencang yang mengkhawatirkan, tetapi gelombang laut pun berbahaya. Gelombang sedang diproyeksikan antara 1,25 hingga 2,5 meter di perairan selatan Jawa Barat dan daerah sekitarnya.
Untuk gelombang yang sangat tinggi, BMKG memperkirakan bisa mencapai 4 hingga 6 meter di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur. Ini tentu menjadi ancaman serius bagi aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir.
Langkah Antisipatif yang Dapat Dilakukan Masyarakat
Di tengah potensi ancaman tersebut, kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi cuaca sangatlah krusial. Mengingat karakteristik cuaca ekstrem yang dapat berubah dengan cepat, masyarakat harus selalu memperbarui informasi dari sumber resmi.
BMKG terus melakukan pemantauan dan analisis untuk memberikan informasi terbaru. Pelaksanaan langkah-langkah antisipatif seperti menyiapkan perlindungan bagi harta benda dan mencari tempat aman sangat disarankan.
Dengan adanya informasi yang jelas, masyarakat bisa menghindari risiko yang lebih besar. Kesigapan dan kesadaran kolektif adalah kunci dalam menghadapi bencana alam seperti ini.














