Kepala BRIN, Prof. Arif Satria, mengungkapkan bahwa proyeksi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia berpotensi untuk diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan pada tahun 2032. Dalam sebuah pertemuan dengan pemimpin media, Arif menekankan pentingnya riset ketahanan energi yang dilakukan oleh BRIN sebagai salah satu prioritas utama lembaga ini.
“PLTN dijadwalkan beroperasi pada tahun 2032, tetapi ada kemungkinan pembangunan bisa dipercepat,” imbuh Arif dalam penyampaiannya di Jakarta. Penegasan ini menunjukkan komitmen BRIN untuk mempercepat transisi energi di Indonesia demi mencapai target ketahanan energi yang lebih baik.
Selain fokus pada PLTN, BRIN juga sedang mengembangkan berbagai infrastruktur lainnya, seperti tempat pengisian kendaraan listrik serta pengembangan bioetanol, biodiesel, dan bioavtur. Semua upaya ini bertujuan untuk menghadirkan solusi energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi masyarakat.
Rencana Pembangunan Energi Nuklir Jangka Panjang di Indonesia
Rencana pembangunan PLTN di Indonesia telah ditetapkan secara bertahap dalam dokumen Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Dokumen ini memuat rencana strategis mengenai kontribusi energi nuklir dalam bauran energi nasional, dengan target mencapai 4-5 persen pada tahun 2050.
Melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk periode 2025-2045, Indonesia berencana membangun dan mengoperasikan PLTN komersial pertamanya. Target utama adalah kapasitas sebesar 250 megawatt yang ditargetkan akan mulai beroperasi dalam fase dua antara tahun 2030 hingga 2034.
Pada fase satu, yang berlangsung dari 2025 hingga 2029, fokus utama adalah penyiapan regulasi dan kelembagaan yang diperlukan untuk mendukung konstruksi PLTN. Dengan langkah ini, BRIN berusaha memastikan bahwa semua aspek legal dan teknis siap untuk mendukung pengoperasian PLTN secara optimal.
Peran BRIN dalam Pengembangan Energi Terbarukan dan Nuklir
BRIN memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi yang berkaitan dengan energi terbarukan dan nuklir di Indonesia. Upaya ini mencakup pengembangan struktur, sistem, dan komponen (SSK) serta menjamin keselamatan selama operasi reaktor nuklir. Melalui berbagai inovasi, BRIN berupaya memastikan tingkat keselamatan yang tinggi dalam setiap proyek yang dilakukan.
Pada saat yang sama, BRIN juga diharapkan dapat menjadi pendorong utama dalam mengedukasi masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya penggunaan energi nuklir. Edukasi yang tepat dapat membantu meredakan kekhawatiran masyarakat terkait dengan keamanan dan dampak lingkungan dari energi nuklir.
Seiring perkembangan teknologi dan pemahaman yang lebih baik mengenai energi nuklir, diharapkan akan ada peningkatan penerimaan publik terhadap proyek-proyek PLTN. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan transparan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.
Target Kemandirian dan Ekspansi PLTN di Indonesia
BRIN merencanakan bahwa dalam fase keempat, yang akan berlangsung dari tahun 2040 hingga 2045, Indonesia diharapkan dapat memperluas operasi PLTN komersial. Ekspansi ini tidak hanya akan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas listrik yang dihasilkan, tetapi juga untuk mencapai kemandirian teknologi dalam bidang nuklir.
Dengan mencapai kemandirian teknologi, diharapkan Indonesia tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan energi domestik, tetapi juga dapat berbagi pengetahuan dengan negara-negara lain. Hal ini bisa menjadi langkah penting dalam membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang memiliki kemampuan dalam teknologi nuklir.
Melalui berbagai inisiatif dan proyek yang direncanakan, seperti pengembangan PLTN, BRIN berusaha menciptakan sistem energi yang berkelanjutan dan aman. Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.














