Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di Banten merencanakan inovasi baru dengan memproduksi tulang buatan dari jaringan hewan pada tahun 2026. Program ini akan melibatkan fasilitas rumah sakit pendidikan dan prodi dokter hewan untuk menghasilkan bone graft, yang diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor tulang dari luar negeri.
Inisiatif ini dikemukakan oleh dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Untirta, yang berpendapat bahwa dengan memproduksi sendiri tulang tambahan, akan ada potensi besar untuk kesehatan masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan rencana pengembangan ilmu kedokteran hewan di institusi tersebut.
Pengembangan Tulang Buatan untuk Kesehatan Masyarakat
Tulang buatan memiliki potensi besar dalam dunia medis, terutama dalam bidang transplantasi. Dengan mengembangkan bone graft menggunakan jaringan hewan, proses penyembuhan pasien dapat menjadi lebih efisien dan aman. Ini juga menandai langkah maju dalam riset medis lokal.
Program ini tidak hanya bermanfaat untuk pasien, tetapi juga untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk impor. Sebagian besar kebutuhan tulang tambahan saat ini masih bergantung pada sumber luar yang mungkin tidak selalu terjamin keamanannya.
Kolaborasi antara dokter hewan dan medis sangat penting dalam proyek ini. Dari pemilihan jaringan hewan yang tepat hingga proses pembuatan tulang buatan, peran dokter hewan akan menjadi sangat krusial.
Keterkaitan Kedokteran Hewan dengan Ketahanan Pangan
Untirta juga berkomitmen mengembangkan ilmu kedokteran hewan yang fokus pada ketahanan pangan. Selain penelitian untuk tulang buatan, prodi ini juga akan mempelajari aspek-aspek penting dalam produksi ternak halal. Hal ini akan mencakup makanan, pengelolaan kandang, hingga penggunaan obat-obatan yang terjamin kehalalannya.
Ketahanan pangan menjadi tema penting di Indonesia, terutama di tengah dampak pandemi yang memperlihatkan pentingnya keberlanjutan protein hewani. Dengan arahan ini, diharapkan akan ada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi ternak di seluruh Indonesia.
Perhatian pada kesehatan hewan akan membantu menjaga kesehatan manusia. Hal ini menciptakan sinergi antara kesehatan hewan dan masyarakat yang akan memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan nasional.
Kebutuhan Dokter Hewan yang Terus Meningkat
Meski penting, keberadaan dokter hewan di Indonesia belum memadai. Saat ini, jumlah dokter hewan masih sangat minim dibandingkan kebutuhan yang ada, baik untuk hewan peliharaan maupun ternak. Ini menunjukkan adanya peluang besar bagi generasi muda untuk berkarir di bidang ini.
Pendidikan kedokteran hewan harus ditingkatkan agar lebih menarik minat calon mahasiswa. Masyarakat perlu disadarkan akan pentingnya profesi ini dalam mengawasi dan menjaga kesehatan hewan, yang pada gilirannya akan memastikan kesehatan manusia.
Peran dokter hewan menjadi lebih jelas, terutama dalam konteks kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan. Profesi ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dalam kampanye pendidikan dan pemahaman publik.















