Menteri Komunikasi dan Digital baru-baru ini menunjukkan komitmennya dalam mendorong penerapan teknologi Internet of Things (IoT) di sektor pertanian, terutama di wilayah pedesaan. Ia menegaskan pentingnya teknologi tersebut dalam mendongkrak efisiensi dan kualitas hasil pertanian, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Dalam kunjungan ke Desa Padas dan Desa Jetak di Kabupaten Sragen, beliau memberikan contoh konkret bagaimana IoT berperan besar dalam merubah cara kerja petani. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang memperbaiki kehidupan dan lingkungan di pedesaan.
Penerapan IoT di Pertanian: Contoh Nyata di Sragen
Penerapan IoT di kawasan pertanian Sragen telah menunjukkan dampak yang signifikan. Petani yang menggunakan teknologi ini melaporkan pengurangan penggunaan pupuk hingga 50 persen, sambil tetap meningkatkan hasil panen mereka. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi mitra strategis bagi petani dalam menghadapi tantangan pertanian modern.
Setelah enam bulan mengadopsi IoT dan kecerdasan buatan, produk pertanian seperti melon tercatat memiliki kualitas yang lebih baik. Penyiraman dan pemupukan yang lebih efisien dan sesuai kebutuhan tanaman telah memberikan hasil yang memuaskan bagi petani.
Melon yang dihasilkan bahkan memiliki rasa yang lebih manis berkat pengelolaan yang lebih baik. Dengan data yang tersedia dari sensor IoT, petani dapat mengatur kondisi optimal untuk pertumbuhan tanaman secara efektif.
Dampak Positif terhadap Kesejahteraan Petani dan Lingkungan
Dampak penggunaan teknologi IoT tidak hanya terlihat dari sisi hasil panen, tetapi juga pada peningkatan pendapatan petani. Mereka mengalami peningkatan pendapatan hingga 44 persen berkat hasil panen yang lebih melimpah. Hal ini memberikan harapan bagi petani untuk mempertahankan dan meningkatkan usaha mereka.
Selain itu, penggunaan IoT membantu menghemat penggunaan tenaga kerja sampai 45 persen dan mengurangi penggunaan air sekitar 15 persen. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mengurangi beban kerja petani dan memanfaatkan sumber daya dengan lebih baik.
Tentunya, dalam jangka panjang, penerapan teknologi ini juga bisa memberikan dampak positif terhadap ekosistem tanah. Dengan semua proses dilakukan lebih otomatis, kondisi tanah bisa terjaga lebih baik, yang akhirnya meningkatkan keberlanjutan pertanian.
Peran Infrastruktur dan Kerjasama dalam Penerapan Teknologi
Sragen dipilih sebagai lokasi percontohan implementasi IoT karena infrastruktur internet yang memadai. Ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan penerapan teknologi dalam sektor pertanian. Tanpa dukungan infrastruktur yang kuat, adopsi teknologi di pedesaan bisa menjadi tantangan tersendiri.
Pemerintah bekerjasama dengan beberapa perusahaan rintisan untuk mendukung program ini. Penggunaan alat seperti HabibiGrow dan Jinawi merupakan langkah ke arah yang tepat untuk memudahkan petani dalam melakukan kegiatan rutin mereka.
HabibiGrow, alat yang dirancang untuk mengelola penyiraman tanaman secara otomatis, memberikan kemudahan bagi petani. Begitu juga dengan Jinawi, yang menawarkan rekomendasi pemupukan yang lebih akurat berdasarkan data tanah yang relevan.















