Tahun 2025 menjadi saksi bisu bagi banyak bencana yang melanda wilayah Indonesia. Deretan peristiwa tersebut menggugah perhatian media, memunculkan ratusan liputan yang mencerminkan betapa seriusnya situasi yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Belakangan ini, isu perubahan iklim semakin mendominasi liputan berita, dengan tingkat kesulitan yang seakan tak pernah surut. Meskipun banyak laporan telah diterbitkan, tampaknya tak ada solusi konkret yang diambil oleh para pengambil kebijakan untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Siklus berulang ini menyebabkan kelelahan, baik fisik maupun mental, bagi banyak jurnalis yang terlibat dalam liputan krisis iklim. Bencana yang terus berulang membuat banyak dari mereka merasa frustrasi, justru ketika media diharapkan menjadi agen perubahan.
Menelusuri Fenomena Burnout di Kalangan Jurnalis Iklim
Di dunia jurnalisme, istilah climate burnout semakin sering terdengar. Istilah ini merujuk pada kelelahan yang dirasakan jurnalis akibat ketidakcocokan antara usaha liputan dengan kemajuan yang dicapai dalam kebijakan publik.
Meski jurnalistik iklim terus mengeluarkan laporan, dampak riil dari kerja keras ini seringkali tak terlihat di lapangan. Para jurnalis terus berjuang, tetapi emisi gas rumah kaca tampaknya semakin meningkat, dan hutan-hutan semakin terancam.
Kaum jurnalis sering merujuk pada motto “Democracy dies in darkness,” yang menggarisbawahi pentingnya transparansi. Namun, dalam isu perubahan iklim, sepertinya jenis transparansi ini gagal mencapai pengaruh yang diharapkan.
Fakta Ilmiah yang Tak Terbantahkan dan Respon Yang Minim
Data ilmiah tentang perubahan iklim menunjukkan potensi dampak dahsyat yang sudah jelas terlihat. Dari Aceh hingga Ambon, krisis iklim sudah menjadi kenyataan yang dihadapi oleh jutaan orang, namun kebijakan yang ada masih jauh dari yang diharapkan.
Setiap tahun, konferensi iklim besar menyoroti isu ini, tetapi hasil konkret dari pertemuan tersebut seringkali masih terasa kabur dan tidak jelas. Kebijakan yang terlambat dan tidak memadai terus menghantui para korban bencana.
Para jurnalis pun kerap bertanya-tanya, apakah pengaruh mereka sudah menurun? Apakah masih ada harapan dalam jurnalisme iklim untuk mendorong perubahan yang nyata?
Akar Masalah: Repetisi dan Ketidakpastian yang Menghantui
Repetisi adalah salah satu penyebab utama kelelahan yang dialami jurnalis. Berita tentang komitmen yang sama dari tahun ke tahun tampak monoton, dan tak jarang justru menciptakan rasa jenuh bagi pembaca serta reporter sendiri.
Bencana yang dikategorikan sebagai “terburuk dalam 10 tahun terakhir” sering kali muncul kembali, menciptakan ketidakpastian tentang langkah-langkah yang harus diambil. Fenomena ini berulang dan semakin membingungkan.
Kerja jurnalis yang menyelidiki deforestasi atau konflik agraria menghadapi banyak tantangan. Ancaman fisik dan intimidasi sering kali mengintai, menjadikan pekerjaan ini tidak hanya berat secara mental tetapi juga berisiko bagi keselamatan mereka.












