Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan prediksi terkait cuaca di Indonesia yang menunjukkan bahwa sejumlah wilayah akan menghadapi hujan dengan intensitas yang bervariasi, mulai dari sedang hingga lebat, hingga akhir bulan ini. Peringatan ini penting untuk diwaspadai oleh masyarakat, terutama di daerah-daerah yang rawan mengalami dampak negatif dari kondisi cuaca ekstrem.
Salah satu daerah yang menjadi sorotan adalah Jawa Barat, yang diramalkan akan mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat. Untuk merespons keadaan ini, pihak berwenang telah merencanakan pelaksanaan modifikasi cuaca guna mengurangi intensitas hujan yang dapat menyebabkan banjir.
Berdasarkan prediksi, curah hujan dengan intensitas sangat lebat antara 100 hingga 150 mm per hari diperkirakan akan terjadi pada tanggal 24 Oktober mendatang. Hal ini menjadi perhatian khusus, mengingat curah hujan yang tinggi bisa mengakibatkan berbagai masalah, termasuk bencana alam.
Daerah yang Terkena Dampak Cuaca Ekstrem
Wilayah yang berpotensi terdampak hujan lebat di Jawa Barat mencakup Karawang, Purwakarta, Subang, Kota Cirebon, Garut, Pangandaran, dan Majalengka. Daerah-daerah ini telah diperingati untuk bersiap menghadapi potensi banjir dan tanah longsor sebagai akibat dari cuaca yang tidak menentu.
Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa modifikasi cuaca dilakukan di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma dan direncanakan berlangsung selama tiga hari, dari 23 hingga 25 Oktober. Tujuan dari operasi ini adalah untuk menjaga agar curah hujan yang turun tidak melebihi batas normal, demi menghindari bencana yang lebih besar.
Operasi modifikasi cuaca sudah dimulai pada hari pertama dengan dua kali penerbangan menggunakan pesawat Cessna Caravan. Penyemaian bahan kimia dilakukan untuk menciptakan awan hujan yang sesuai dan mengatur curah hujan agar tetap terkendali, terutama di daerah-daerah yang rawan banjir.
Langkah-Langkah yang Ditempuh dalam Modifikasi Cuaca
Penyemaian pertama dilakukan dengan menggunakan Kalsium Oksida, sementara penyemaian kedua menggunakan Natrium Klorida. Penggunaan dua jenis bahan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas modifikasi cuaca dan mengurangi risiko banjir yang diakibatkan oleh hujan lebat.
Data yang dipantau oleh radar BMKG menunjukkan adanya pengurangan curah hujan hingga mencapai 81 persen pada tanggal 23 Oktober. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil dalam operasi modifikasi cuaca telah memberikan dampak positif meskipun perlu diakui bahwa efek penuh dari operasi ini baru akan terlihat dalam beberapa hari ke depan.
BNPB melaporkan bahwa sebelumnya terdapat dua lokasi yang terdampak banjir pada periode 19-20 Oktober, namun pasca operasi modifikasi cuaca, tidak ada laporan kejadian banjir yang baru. Ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan berhasil menjaga daerah tersebut agar tidak terendam air secara berlebihan.
Cuaca Ekstrem di Wilayah Lain
Cuaca ekstrem tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga melanda beberapa wilayah di Indonesia lainnya. Salah satunya adalah Kabupaten Bondowoso di Jawa Timur yang mengalami hujan lebat disertai angin kencang pada tanggal 22 Oktober. Kejadian ini mengakibatkan kerusakan pada rumah warga dan beberapa pohon tumbang.
Di Bondowoso, lima desa di dua kecamatan mengalami dampak signifikan dari cuaca buruk tersebut. Kecamatan Binakal dan Curahdami menjadi daerah paling parah yang merasakan dampak dari fenomena cuaca ekstrem ini.
Tidak hanya itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini untuk beberapa wilayah, termasuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Padang, dan Kepulauan Riau, yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. Masyarakat diminta untuk selalu waspada dan mengikuti informasi perkembangan cuaca dari pihak berwenang.















