Seekor hiu paus jantan sepanjang 5,2 meter ditemukan mati di pesisir Muara Mati, Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 30 September 2025. Penemuan ini mengejutkan masyarakat setempat, mengingat hiu paus merupakan satwa laut yang dilindungi dan menjadi bagian penting dari ekosistem laut.
Hiu paus ini ditemukan terjebak dalam jaring sero milik nelayan. Tim dari WWF-Indonesia, bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, segera melakukan penanganan untuk menangani situasi tersebut.
Proses Penanganan Hiu Paus Setelah Ditemukan
Pada hari berikutnya, penanganan lanjutan dilakukan termasuk pengukuran tubuh, pengambilan sampel sirip, serta insang hiu paus. Proses ini penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang penyebab kematiannya.
Setelah proses tersebut selesai, hiu paus akhirnya dikuburkan di area mangrove, sedalam satu meter dengan panjang galian enam meter. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap satwa laut yang dilindungi ini.
Dyah Ayu Purwaningsih, Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan lembaga dalam menangani kejadian seperti ini. Masyarakat berperan aktif dalam melaporkan kejadian tersebut.
Ia menyebutkan, “Kami melakukan respons cepat terhadap pengaduan masyarakat dan berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut.” Tim WWF-Indonesia berperan penting dalam penanganan hiu paus ini.
Kesadaran Masyarakat tentang Perlindungan Hiu Paus
Masyarakat Desa Pantai Bahagia menunjukkan kesadaran yang tinggi mengenai status perlindungan hiu paus. Mereka sepenuhnya memahami bahwa hiu paus adalah spesies yang dilindungi dan harus dijaga kelestariannya.
Penduduk desa percaya bahwa memotong atau mengkonsumsi hiu paus dapat mendatangkan malapetaka. Mereka menghormati hiu paus sebagai penolong nelayan, dan oleh karena itu mereka mengubur bangkai hiu paus dengan kain kafan.
“Hiu paus bukan hanya sekadar ikan besar bagi kami; ia adalah makhluk yang memiliki peran penting dalam budaya dan tradisi kami,” ungkap salah satu warga setempat. Ini menunjukkan betapa dalamnya hubungan masyarakat dengan ekosistem laut.
Masyarakat setempat juga memiliki tradisi untuk menghormati semua bentuk kehidupan laut. Keyakinan ini berfungsi sebagai panduan moral untuk menjaga hubungan baik dengan lingkungan.
Dengan pengetahuan dan rasa hormat yang tinggi terhadap satwa laut, masyarakat Desa Pantai Bahagia berkomitmen menjaga kelestarian hiu paus untuk generasi mendatang.
Penyebab Kematian Hiu Paus yang Belum Dikenal
Setelah penemuan hiu paus, tim melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Ahmad Qurtubi, Sekretaris Desa Pantai Bahagia, melaporkan bahwa hiu tersebut ditemukan dalam keadaan mati tanpa luka yang jelas di tubuhnya.
Nelayan setempat bernama Rohani yang pertama kali menemukan hiu tersebut mengungkapkan bahwa ia menemukan ikan itu dalam keadaan terjerat di dalam sero. Ia merasa bingung dan segera meminta bantuan untuk mengevakuasi bangkai ikan yang berukuran sangat besar.
“Kami semua penasaran tentang apa yang menyebabkannya mati,” ucap Ahmad. Banyak dugaan yang muncul di masyarakat, namun hingga saat ini belum ada kesimpulan yang pasti mengenai penyebab kematian hiu paus tersebut.
Dalam kasus seperti ini, penting untuk melakukan analisis lebih lanjut agar dapat memahami kondisi lingkungan yang mungkin mempengaruhi kematian spesies laut. Masyarakat berharap agar hasil analisis dapat segera keluar untuk memberikan penjelasan atas kejadian yang mengejutkan ini.
Penting untuk dicatat bahwa hiu paus adalah bagian dari ekosistem laut yang sangat rapuh. Oleh karena itu, tindakan cepat dan efektif sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka.
Ruang Lingkup dan Tindakan Perlindungan untuk Hiu Paus
Hiu paus, yang juga dikenal dengan nama ilmiah Rhincodon typus, termasuk dalam kategori megafauna yang dilindungi oleh hukum. Berdasarkan keputusan menteri terkait, seluruh bagian dari hewan ini tidak boleh dimanfaatkan untuk tujuan komersial.
Fitrian Dwi Cahyo, Ketua Tim Kerja Perlindungan dan Pelestarian, menjelaskan bahwa tindakan segera sangat diperlukan untuk mengatasi hiu paus yang terdampar. Hal ini bertujuan untuk mencegah kerugian lebih lanjut dan menjaga keberlangsungan spesies ini.
Dengan perlindungan yang tepat, kita dapat menjaga kelestarian hiu paus dan merawat ekosistem laut yang menjadi habitatnya. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal adalah kunci dalam melindungi spesies yang terancam punah.
Status perlindungan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat global akan pentingnya menjaga spesies laut yang terancam punah. Upaya konservasi yang konsisten dapat membantu menghindari kepunahan spesies laut, termasuk hiu paus.
Tindakan kolektif dari komunitas dan lembaga terkait akan sangat membantu dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk semua makhluk hidup di laut.















