Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengambil langkah strategis dalam memperkuat ekosistem digital yang aman di Indonesia. Melalui peluncuran Indonesia Game Rating System (IGRS), kementerian bertujuan untuk mengatasi dampak negatif dari konten gim online, yang dinilai berpotensi merugikan anak-anak dan remaja.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan bahwa persiapan pengawasan terhadap berbagai gim populer sedang berlangsung. Masalah dampak negatif media sosial dan gim online menjadi perhatian global yang tak bisa diabaikan.
“Kondisi ini semakin menjadi konsensus global bahwa media sosial dan gim online memiliki dampak negatif, terutama pada anak-anak,” ungkap Edwin baru-baru ini. Hal ini mengindikasikan pentingnya pendekatan proaktif dalam menjaga keselamatan generasi muda di dunia digital.
Pemerintah telah melirik contoh dari berbagai negara yang menerapkan sistem klasifikasi usia untuk permainan. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan telah menciptakan standar yang jelas untuk usia minimal yang dapat mengakses gim tertentu.
“Di negara-negara seperti Amerika Serikat, sistem klasifikasi sudah diterapkan untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan perlindungan yang tepat,” tambah Edwin. Ini menunjukkan bahwa sistem serupa di Indonesia juga sangat diperlukan untuk mencegah anak-anak mengakses konten yang tidak sesuai.
Pengaruh Negatif Permainan Online pada Anak dan Remaja
Pentingnya menjaga kesehatan mental dan fisik anak menjadi alasan utama pengawasan terhadap gim online. Konten yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah psikologis dan perilaku yang merugikan. Oleh karena itu, komunitas dan pemerintah perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.
Disisi lain, beberapa permainan mengandung unsur kekerasan, penyalahgunaan, atau pengaruh negatif lainnya. Hal ini bisa memengaruhi cara pandang anak terhadap kehidupan, interaksi sosial, dan perilaku mereka di dunia nyata. Kesadaran akan dampak jangka panjang ini menjadi titik fokus dalam membangun kebijakan yang lebih baik.
Edwin juga memberikan contoh konkret dari gim yang sering dijumpai oleh anak-anak di Indonesia. “Berbagai judul seperti PUBG dan Free Fire memiliki batasan usia yang ketat di negara lain,” jelasnya. Oleh karena itu, mengadaptasi sistem rating di Indonesia menjadi langkah yang bijak.
Pemerintah berencana untuk menjadikan sistem ini sebagai alat untuk melindungi anak-anak. Dengan adanya IGRS, diharapkan anak-anak bisa lebih terlindungi dari pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh permainan yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Struktur dan Sistem Penilaian di Indonesia Game Rating System
Dalam IGRS, pemerintah mengelompokkan kategori usia yang jelas, mulai dari Balita hingga 18 tahun. Ini mencakup: Balita, 7-10 tahun, 10+, 13+, 15+, dan 18+. Dengan adanya klasifikasi ini, tidak semua gim online akan tersedia untuk setiap kelompok usia.
“Publisher harus melakukan penilaian mandiri terhadap kategori rating, dan ini menjadi tanggung jawab mereka sebelum merilis gim,” ujar Edwin. Proses ini diharapkan bisa menjamin bahwa hanya konten yang sesuai yang tersedia untuk anak-anak.
Pemerintah juga telah membentuk tim khusus yang bertugas untuk melakukan evaluasi berkala terhadap berbagai judul gim. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada konten yang melanggar ketentuan yang telah ditetapkan.
Dengan cara ini, sektor industri gim di Indonesia tetap bisa berkembang tanpa harus mengorbankan keamanan pengguna. Kreativitas dalam membuat gim juga tidak akan terhambat, selama mereka mematuhi pedoman yang berlaku.
Menuju Ekosistem Digital yang Lebih Sehat dan Kreatif
Pemerintah berkomitmen kuat untuk membangun ekosistem digital yang tidak hanya aman tetapi juga mendukung kreativitas. Edwin berharap bahwa kreator gim bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menghadirkan konten pendidikan yang bermanfaat di platform digital.
“Kita bisa melihat adanya gim yang berkaitan dengan sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan yang dapat meningkatkan kecerdasan anak-anak,” ungkapnya. Dengan demikian, permainan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai media pembelajaran yang efektif.
Dengan penerapan IGRS yang lebih ketat, diharapkan akan ada peningkatan kesadaran di kalangan orang tua dan masyarakat mengenai pentingnya pemilihan gim yang tepat untuk anak-anak. Keterlibatan orang tua sangatlah penting untuk mendukung pengawasan ini.
Secara keseluruhan, langkah yang diambil oleh Komdigi dalam mengimplementasikan IGRS dapat dilihat sebagai sebuah langkah maju dalam menciptakan lingkungan digital yang aman bagi generasi muda, sekaligus menjaga perkembangan industri gim yang sehat dan kreatif.














