Pekerja generasi muda, khususnya yang tergolong dalam kelompok Gen Z, saat ini berada dalam situasi yang tidak mudah akibat penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara masif di berbagai perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa strategi otomatisasi melalui AI lebih dipilih oleh manajer daripada melatih karyawan baru. Hal ini menciptakan tantangan serius bagi mereka dalam mempertahankan posisi kerja.
Lebih dari 850 pemimpin bisnis dari tujuh negara terlibat dalam survei yang mengungkapkan bahwa 41 persen perusahaan merasa bahwa AI memungkinkan mereka mengurangi jumlah staf. Ini menghasilkan situasi di mana para pekerja muda harus bersaing dengan teknologi yang mampu melakukan banyak tugas dengan lebih cepat dan efisien.
Menariknya, hampir sepertiga responden survei mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan solusi AI sebelum merekrut karyawan baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda, yang baru saja memasuki pasar kerja, harus menghadapi persaingan yang semakin sengit.
Konsekuensi Penerapan AI bagi Pekerja Generasi Muda
Penting untuk memahami dampak perubahan ini terhadap generasi Z yang lahir antara 1997 dan 2012. Mereka kini harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa hampir separuh pemimpin perusahaan yakin bahwa banyak tugas entry-level dapat diambil alih oleh AI. Hal ini menciptakan kekhawatiran akan masa depan pekerjaan bagi para pekerja muda ini.
Sebanyak 39 persen pimpinan perusahaan mengindikasikan bahwa posisi entry-level sudah mulai dihapuskan demi efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi. Imbasnya, generasi ini mungkin kehilangan banyak peluang karier yang sebelumnya tersedia bagi rekan-rekan mereka yang lebih tua.
Pihak-pihak di dunia bisnis berpendapat bahwa meskipun AI menawarkan manfaat yang besar, manusia tetap menjadi penggerak utama dalam kemajuan perusahaan. Penting untuk menjaga keseimbangan antara teknologi dan pengembangan potensi manusia agar tidak ada yang tertinggal dalam perkembangan industri yang semakin cepat.
Pentingnya Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan
Dari hasil survei, terlihat bahwa perusahaan berinvestasi pada AI tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk mengatasi kesenjangan keterampilan di antara karyawan. Namun, kata “pelatihan ulang” tidak diutamakan dalam diskursus ini, sementara “otomatisasi” justru lebih sering dibicarakan. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pelatihan dan pengembangan keterampilan karyawan tidak mendapatkan perhatian yang layak.
Generasi muda harus menyadari bahwa memiliki keterampilan yang relevan adalah kunci untuk bertahan dalam dunia kerja yang terus berubah. Dengan meningkatnya adopsi teknologi, mereka perlu berupaya lebih untuk tetap diperhitungkan dalam dunia kerja. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk terus belajar dan beradaptasi.
Perusahaan pun seharusnya memikirkan strategi jangka panjang yang mencakup investasi dalam pelatihan karyawan. Hal ini akan memastikan bahwa tenaga kerja mereka tidak hanya beradaptasi dengan cepat tetapi juga berkembang dalam dunia yang semakin didominasi oleh teknologi.
Mencari Solusi untuk Stabilitas Pekerjaan di Masa Depan
Tantangan yang dihadapi oleh pekerja Gen Z tidak hanya relevan dalam konteks otomatisasi pekerjaan. Mereka juga harus menghadapi pasar tenaga kerja yang melambat dan ketidakpastian yang muncul dari perubahan ekonomi global. Tingkat pengangguran di banyak negara kini mencatatkan angka yang cukup tinggi, menambah kesulitan bagi mereka yang baru mencari pekerjaan.
Dengan meningkatnya kekhawatiran tentang dampak AI terhadap pekerjaan, banyak orang di generasi muda perlu mengevaluasi kembali cara mereka mempersiapkan diri untuk memasuki pasar kerja. Mereka harus lebih proaktif dalam mendapatkan pengetahuan terbaru tentang alat dan teknologi yang sedang tren.
Generasi Z juga perlu bersikap fleksibel dan terbuka terhadap peran baru yang mungkin muncul seiring berkembangnya teknologi. Menjadi adaptif adalah salah satu cara untuk bertahan dan berkembang di era yang penuh dengan perubahan yang cepat dan menantang ini.















