Tim peneliti dari Museum Geologi Bandung baru saja membuat penemuan yang signifikan dengan menemukan fosil utuh gajah purba, Stegodon, di lereng Gunung Pandan, Nganjuk, Jawa Timur. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang kehidupan hewan purba yang pernah mendiami wilayah tersebut.
Fosil gajah purba ini ditemukan di Hutan Tritik, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, yang menunjukkan potensi besar untuk penelitian lebih lanjut mengenai ekosistem purba. Tim ekskavasi yang terlibat terdiri dari berbagai pihak, termasuk institusi pemerintah dan komunitas lokal.
Tim terdiri atas Museum Geologi Bandung, Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Nganjuk serta komunitas Kota Sejuk Nganjuk, yang semuanya bekerja sama dalam proses ekskavasi. Kolaborasi ini juga menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pelestarian sejarah dan ilmu pengetahuan.
Proses Ekskavasi Fosil Gajah Purba di Nganjuk
Menurut perwakilan Disporabudpar Nganjuk, Gunawan Widagdo, ekskavasi dilakukan mulai 14 Oktober dan melibatkan total 22 orang. Tim ini terdiri dari 11 orang dari Badan Geologi, 7 orang dari komunitas Kota Sejuk, dan 4 warga setempat.
Kehadiran berbagai pihak dalam proses ini menciptakan sinergi yang positif, mendorong partisipasi masyarakat dalam ilmu pengetahuan. Fosil yang ditemukan adalah satu tubuh utuh, menjadikannya temuan yang berharga bagi penelitian lebih lanjut.
Gunawan mengungkapkan bahwa fosil ini memiliki panjang sekitar 255 sentimeter, memperkuat pentingnya penemuan ini dalam memahami ukuran dan bentuk gajah purba. Proses ekskavasi yang terorganisir memastikan bahwa fosil tersebut dapat dipelajari dengan baik tanpa merusaknya.
Sejarah Penemuan Fosil Stegodon di Hutan Tritik
Sebelum ekskavasi saat ini, fosil ini sebenarnya sudah ditemukan pada awal tahun 2024 oleh anggota komunitas lokal. Namun, untuk menjaga keselamatan fosil, proses ekskavasi terpaksa ditunda sampai oktober 2025.
Fosil ini ditemukan saat para peneliti melakukan survei potensi sebaran fosil di Hutan Tritik. Proses ekskavasi awal dilakukan, namun tidak tuntas karena keterbatasan waktu, sehingga fosil tersebut ditutupi dengan gipsum dan terpal untuk melindunginya.
Pada tahun 2025, tim peneliti berupaya untuk kembali melakukan ekskavasi dan penelitian lebih lanjut. Namun, keterbatasan waktu mendorong mereka hanya untuk mengangkat bagian-bagian yang sudah terlihat jelas.
Signifikansi Temuan Fosil Ini bagi Ilmu Pengetahuan
Penemuan fosil gajah purba ini sangat berarti bagi penelitian paleontologi di Indonesia. Fosil seperti ini memberikan wawasan tentang kehidupan dan habitat hewan-hewan purba di masa lalu.
Dengan memahami lebih dalam mengenai gajah purba, para peneliti dapat membangun gambaran lebih komprehensif tentang dinamika ekosistem masa lalu. Ini juga memungkinkan kita untuk menggali informasi mengenai perubahan lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan hewan purba.
Pentingnya pelestarian temuan ini tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi generasi mendatang. Pengetahuan yang diperoleh dari fosil dapat memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana manusia dan hewan hidup berdampingan dalam ekosistem.













