BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tentang cuaca ekstrem yang mungkin tetap menghampiri Indonesia pada tahun 2026. Meskipun diperkirakan iklim akan berada dalam kategori normal, potensi risiko bencana masih nyata dan perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pemerintah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa meskipun kondisi iklim diprediksi normal, hal ini tidak menjamin hilangnya risiko bencana. Pertemuan antara intensitas cuaca dan kerentanan wilayah akan sangat menentukan dampaknya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak boleh merasa aman sepenuhnya. Cuaca ekstrem merupakan gabungan dari berbagai faktor dan bisa terjadi kapan saja, meskipun iklim secara umum terbilang stabil.
Pentingnya Memahami Istilah ‘Normal’ dalam Iklim
BMKG menjelaskan bahwa istilah ‘normal’ merujuk pada kondisi cuaca yang berada dalam rentang klimatologi historis, terutama dari tahun 1991 hingga 2020. Ini berarti bahwa meskipun tidak ada perubahan drastis, potensi hujan lebat, banjir, dan longsor tetap ada dan bisa terjadi, terutama di musim hujan.
Selama periode Januari hingga Maret, hujan lebat merupakan hal yang jamak terjadi. Oleh karena itu, meskipun dianggap normal, kewaspadaan tetap diperlukan karena dampak dari cuaca ekstrem bisa sangat merugikan.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kewaspadaan, meskipun iklim diproyeksikan normal. Kewaspadaan ini penting untuk menangkal potensi bencana yang dapat muncul secara tiba-tiba.
Risiko Bencana yang Perlu Diantisipasi di Tahun 2026
BMKG menyoroti dua sisi ekstrem yang perlu diantisipasi pada tahun 2026: ekstrem basah dan ekstrem kering. Pada awal tahun, fenomena La Nina yang lemah berpotensi menyebabkan curah hujan yang tinggi dan kejadian hidrometeorologi seperti banjir serta longsor menjadi lebih signifikan.
Di sisi lain, musim kemarau nantinya akan membawa risiko kekeringan dan kebakaran lahan. Ini menjadi perhatian serius karena dampaknya bisa berkepanjangan, berbeda dengan efek dari hujan lebat yang umumnya lebih cepat terlihat.
Ardhasena juga menegaskan pentingnya menyimpan air sebanyak mungkin saat musim hujan. Tindakan ini menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengantisipasi periode kering yang mungkin datang di kemudian hari.
Penyebab Utama Cuaca Ekstrem di Indonesia
Perubahan iklim jangka panjang telah menjadi faktor penentu meningkatnya risiko cuaca ekstrem, walaupun fenomena El Nino maupun La Nina tidak aktif. Tren kenaikan suhu dan kelembapan dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
Kombinasi dari kedua elemen tersebut berdampak serius terhadap manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, pemahaman akan perubahan iklim menjadi sangat krusial untuk mengambil langkah-langkah pencegahan.
BMKG berusaha untuk mengurangi risiko yang ada. Mereka memperkuat sistem peringatan dini berbasis dampak, yang tidak hanya menyampaikan informasi tentang intensitas hujan tetapi juga potensi risiko yang menyertainya.
Peran Peringatan Dini dalam Menghadapi Cuaca Ekstrem
Sistem peringatan dini yang sedang dikembangkan BMKG bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih jelas dan bermanfaat bagi masyarakat. Peringatan akan mencakup tidak hanya hujan lebat, tetapi juga potensi banjir atau longsor di lokasi tertentu.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pendekatan ini akan menciptakan kewaspadaan yang lebih tinggi di antara masyarakat, membantu dalam persiapan menghadapi kemungkinan bencana. Dengan informasi yang tepat, tindakan pencegahan dapat diambil lebih awal.
Hal ini mencakup mitigasi bencana yang lebih efektif, yang merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat umum. Kesiapsiagaan ini perlu ditingkatkan untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin terjadi.
BMKG juga mengimbau agar daerah dan masyarakat tidak lengah meskipun proyeksi cuaca di tahun 2026 dianggap normal. Penting bagi semua pihak untuk terus memanfaatkan informasi cuaca yang disediakan sebagai dasar untuk mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan risiko yang dihadapi dapat diminimalisir, dan masyarakat bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman. Waspada adalah kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem dan semua tantangan yang menyertainya.














