Pakar klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menginformasikan bahwa Bibit Siklon Tropis 91S memiliki potensi untuk berkembang menjadi siklon tropis. Keberadaan bibit siklon ini terpantau di Samudra Hindia bagian barat Provinsi Lampung, dengan pembentukan yang pertama kali terjadi pada 7 Desember.
Erma menegaskan bahwa bibit badai tropis ini dapat mengancam sejumlah daerah yang luas. Terutama, kawasan pesisir barat Sumatra yang membentang dari Subulussalam hingga Lampung diharapkan untuk bersiap menghadapi cuaca ekstrem.
Perkembangan dan Potensi Dampak dari Bibit Siklon Tropis 91S
Menurut analisis yang dilakukan, Bibit Siklon Tropis 91S dapat berkembang dalam 24 jam ke depan. Erma menjelaskan bahwa sistem badai ini terus membesar, dengan kemungkinan bergabung dengan bibit badai lainnya di Samudra Hindia.
Dampak yang diakibatkan oleh bibit siklon ini diharapkan berupa hujan lebat, terutama di wilayah Padang hingga Bengkulu. Masyarakat di daerah terkena dampak diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang mungkin memburuk.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memberikan peringatan bahwa Bibit Siklon Tropis 91S diprediksi mendekati daratan Sumatra dalam waktu dekat. Oleh karena itu, intensitas hujan akan meningkat secara signifikan pada tanggal-tanggal tertentu yang dilaporkan oleh BMKG.
Peringatan dan Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Cuaca Ekstrem
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Ia menyebutkan, potensi bibit siklon ini tumbuh ke daratan pada kategori rendah namun perlu diantisipasi. Masyarakat di sekitar Sumatra Barat, Bengkulu, dan Lampung diimbau untuk bersiap menghadapi hujan sedang hingga lebat akibat dari bibit ini.
BMKG mencatat, dalam analisis mereka, bahwa kecepatan angin maksimum yang terpantau sekitar 20 knot atau 37 km/jam yang berasal dari sistem ini. Dengan tekanan minimum yang terdeteksi sekitar 1008 hPa, masyarakat disarankan untuk memantau perkembangan terbaru untuk keselamatan.
Pengamatan dari citra satelit menunjukkan awan konvektif yang persisten, tetapi sebarannya masih sporadis. Sistem ini belum sepenuhnya terorganisasi, yang bisa mempengaruhi intensitas dampak terhadap cuaca di sekitarnya.
Analisis dan Observasi Lanjutan dari BMKG
Berdasarkan analisis yang lebih mendalam, pola sirkulasi siklonik terlihat melebar ke arah timur dari pusat sistem. Pada lapisan 700-500 hPa, pola sirkulasi mulai tidak jelas dan lebih menyerupai belokan angin yang tidak teratur.
Keberadaan divergensi di lapisan 200 hPa menunjukkan adanya tantangan dalam proses pembentukan siklon yang lebih kuat. Observasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa faktor pendukung, struktur badai yang sedang berkembang masih perlu ditingkatkan untuk menciptakan sistem siklon yang stabil.
Aktivitas bibit siklon ini juga diperkuat oleh gelombang Equatorial Rossby yang aktif di wilayah tersebut serta suhu permukaan laut yang cukup hangat, berkisar antara 29-30 derajat Celcius. Keseluruhan situasi ini menunjukkan bahwa meskipun potensi ada, perlu ada pengawasan yang ketat terhadap perkembangan situasi cuaca ini.
Proyeksi Cuaca dan Curah Hujan di Wilayah Terkait
Menurut perkiraan klimatologis, diperkirakan curah hujan yang tinggi hingga sangat tinggi dapat terjadi di beberapa wilayah seperti Tapanuli, Nias, Langkat, Mandailing Natal, dan Labuhan Ratu sepanjang bulan Desember. Intensitas ini diprediksi menurun pada Januari tahun berikutnya.
Pada bulan Januari, diperkirakan curah hujan akan berada pada kategori menengah hingga tinggi, terutama di Tapanuli Tengah dan sekitarnya. Masyarakat diminta untuk tetap memperhatikan informasi dari BMKG untuk mendapatkan data terkini mengenai kondisi cuaca.
Perubahan cuaca yang signifikan dalam beberapa minggu ke depan diperkirakan akan mempengaruhi kondisi lingkungan, sehingga penting untuk menjaga kewaspadaan. Upaya mitigasi yang tepat juga harus dilakukan agar masyarakat tidak terjebak dalam situasi darurat akibat cuaca ekstrem.














