Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan bahwa Indonesia memiliki ambisi yang kuat untuk mencapai kemandirian di bidang teknologi antariksa. Salah satu langkah krusial adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak sebagai lokasi peluncuran roket dan satelit nasional.
Menurutnya, jika koordinasi antar kementerian dan lembaga dapat berjalan dengan baik, Indonesia dapat segera melakukan peluncuran secara mandiri. Hal ini sangat penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri antariksa global.
Pengembangan bandar antariksa sudah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017-2040 yang bertujuan untuk memberikan visi jangka panjang bagi kemajuan antariksa di Indonesia. Dengan adanya rencana ini, diharapkan Indonesia dapat bersaing secara efektif dalam teknologi antariksa.
Rencana Induk Keantariksaan Nasional sebagai Landasan Strategis
Renduk dievaluasi setiap lima tahun untuk memastikan bahwa strategi dan tujuan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Di tengah dinamika global dan cepatnya perubahan teknologi, penting bagi Indonesia untuk mengevaluasi kembali target yang ada.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam implementasi rencana ini. Perubahan yang cepat dalam teknologi dan kebutuhan nasional menjadi alasan mengapa strategi harus bersifat adaptif dan realistis.
BRIN menegaskan perlunya langkah progresif dan terukur agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi antariksa. Dengan berbagai kemajuan teknologi yang terjadi di seluruh dunia, perhatian terhadap pengembangan sistem satelit dan roket menjadi semakin mendesak.
Optimalisasi Bandar Antariksa Biak sebagai Pusat Peluncuran
Optimalisasi Bandar Antariksa Biak bertujuan untuk menjadikannya sebagai pusat peluncuran nasional dan pusat kerja sama internasional dalam bidang antariksa. Ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam peluncuran satelit dan roket ke angkasa.
Pembahasan mengenai kesiapan fasilitas pendukung peluncuran juga telah dilakukan secara bertahap. Langkah ini melibatkan koordinasi antara berbagai kementerian dan lembaga untuk menciptakan sistem yang terintegrasi dan berjalan dengan baik.
Arif Satria menekankan bahwa akselerasi pengembangan antariksa tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik semata. Faktor-faktor seperti kejelasan tata kelola dan pembagian peran antar unit juga sangat penting untuk mendukung efektivitas program ini.
Peran Tata Kelola dalam Pengembangan Teknologi Antariksa
Pembahasan mengenai aspek kelembagaan masih berlangsung antara Kementerian PAN-RB dan kementerian lain yang terkait. Arif menegaskan bahwa efektivitas dari fungsi kelembagaan lebih penting daripada sekadar bentuk organisasi yang ada.
Fokus harus diarahkan pada bagaimana fungsi-fungsi keantariksaan dapat berjalan secara terintegrasi serta berkelanjutan. Keberhasilan di bidang ini memerlukan sinergi antarlembaga dalam melaksanakan berbagai inisiatif.
Arif juga menekankan bahwa pencapaian di bidang keantariksaan memerlukan komitmen dan kerja keras yang konsisten. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang dapat sukses di antariksa dengan upaya setengah-setengah.
Mendorong Inovasi Melalui Penelitian dan Pengembangan
Ia mendorong para peneliti untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset yang dilakukan. Dengan memanfaatkan peluang hibah riset luar negeri yang semakin terbuka, diharapkan dapat membantu para peneliti untuk mengejar inovasi yang diperlukan.
Mekanisme pendanaan dan penghargaan riset juga akan terus disempurnakan untuk mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan teknologi yang bersifat strategis. Hal ini diharapkan dapat merangsang lebih banyak inovasi di bidang antariksa.
Dalam rangka mencapai kemandirian di sektor antariksa, kolaborasi antar berbagai pemangku kepentingan sangatlah penting. Hanya dengan kebersamaan yang solid, Indonesia dapat mewujudkan cita-cita menjadi negara yang mandiri di bidang teknologi antariksa.














