Laksana Tri Handoko baru saja melepaskan posisinya sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan menyerahkan tanggung jawab kepada penggantinya, Arif Satria. Dalam pernyataannya, Handoko menggarisbawahi banyaknya pekerjaan yang masih perlu diselesaikan oleh tim dan penggantinya dalam memajukan riset dan inovasi di Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa meskipun beberapa tantangan mendasar telah teratasi, masih banyak langkah perbaikan yang perlu dilakukan untuk mencapai kemajuan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan komitmennya untuk terus mendukung riset meskipun sudah tidak menjabat.
Handoko juga menjelaskan bahwa tugasnya tidak hanya menyelesaikan proyek yang ada, tetapi juga harus memikirkan berkelanjutan, karena riset dan inovasi adalah proses yang tak pernah selesai.
Perubahan Kepemimpinan di BRIN dan Harapan Baru
Dengan pengunduran diri Handoko, organisasi BRIN memasuki era baru dengan pemimpin baru, Arif Satria. Harapan masyarakat tertuju pada Satria untuk membawa inovasi dan riset di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.
Arif Satria, yang sebelumnya menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor, diharapkan dapat meneruskan visi dan misi yang telah dimulai Handoko. Tanggung jawab besar ini menuntut kemampuan manajerial dan pemahaman mendalam mengenai isu-isu penelitian yang relevan.
Kepemimpinan Satria akan diuji dalam meneruskan program-program inovasi yang memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia industri.
Profil Laksana Tri Handoko dan Kariernya
Laksana Tri Handoko lahir di Malang pada 7 Mei 1968 dan memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang fisika. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Kumamoto, Jepang, setelah sebelumnya menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung.
Selama kariernya, Handoko telah menempati berbagai posisi penting, terutama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebelum akhirnya memimpin BRIN. Dengan pengalaman sebagai peneliti di berbagai lembaga internasional, ia membawa wawasan yang luas dalam riset ilmiah.
Kepemimpinan Handoko di BRIN tidak hanya ditandai oleh pelaksanaan tugas administratif, tetapi juga pengembangan inisiatif riset yang dapat menjawab tantangan zaman, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan inovasi.
Sejarah dan Tantangan Riset di Indonesia
Riset di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dengan berbagai tantangan serta perkembangan yang terus-menerus. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap pentingnya inovasi semakin meningkat, sejalan dengan kebutuhan untuk memperkuat daya saing nasional.
Tantangan yang dihadapi termasuk kurangnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta, serta minimnya pendanaan untuk riset yang inovatif. Dalam konteks tersebut, peran BRIN sangat crucial untuk menjembatani gap tersebut.
Kedepannya, diharapkan akan ada lebih banyak inisiatif yang mendorong kerjasama lintas sektor dalam pengembangan riset dan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat dan ekonomi.
















