Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengingatkan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari risiko gempa. Meskipun sering dianggap sebagai pulau yang lebih stabil seismik, sejarah menunjukkan adanya aktivitas gempa yang cukup signifikan, terutama di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Kota Tarakan mencatat sejumlah gempa yang merusak sejak awal abad ke-20, menjadikannya salah satu tempat dengan tingkat seismik tinggi di pulau ini. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa meskipun Kalimantan memiliki tingkat aktivitas gempa yang lebih rendah dibandingkan daerah lain seperti Sumatra dan Jawa, potensi kerusakan tetap ada.
Sejarah kegempaan menunjukkan bahwa Tarakan tidak lepas dari ancaman gempa, terutama yang berhubungan dengan kehadiran Sesar Tarakan yang aktif. Daryono menekankan perlunya kesadaran akan potensi ini, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang dianggap relatif aman.
Risiko Gempa di Kalimantan dan Sejarah Kegempaan
Sejak awal abad ke-20, Kalimantan sudah mencatat beberapa gempa yang merusak. Sesar aktif di Pulau Kalimantan menunjukkan bahwa risiko gempa bukanlah mitos semata, tetapi sebuah kenyataan yang dihadapi oleh penduduk setempat.
Gempa terbesar yang tercatat di Tarakan terjadi pada tahun 1923 dengan magnitudo M7,0, menyebabkan kerusakan besar pada bangunan dan infrastruktur. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang pentingnya membangun struktur yang tahan gempa.
Tidak hanya di Tarakan, beberapa wilayah lain di Kalimantan juga pernah mengalami gempa serius yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Dari tahun ke tahun, data menunjukkan bahwa ancaman ini tidak bisa dianggap sepele, bahkan bagi pulau yang dikenal stabil.
Data Kegempaan di Kalimantan yang Mencengangkan
Berikut adalah beberapa catatan penting terkait peristiwa kegempaan di Kalimantan. Memahami sejarah kegempaan dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko yang ada.
- 14 Mei 1921: Gempa dan tsunami di Sangkulirang, Kalimantan Timur, menyebabkan kerusakan besar dan mempengaruhi banyak struktur.
- 19 April 1923: Gempa Tarakan dengan kekuatan M7,0 mengakibatkan banyak kerusakan bangunan dan rekahan tanah.
- 14 Februari 1925: Gempa Tarakan menimbulkan guncangan hebat hingga merusak bangunan di sekitarnya.
- 5 Februari 2008: Gempa M5,8 di Selat Makassar mempengaruhi daerah sekitarnya dengan intensitas IV-V MMI.
- 21 Desember 2015: Gempa M6,1 mengguncang daerah Tarakan dan sekitarnya, merusak puluhan rumah.
Penanganan dan Antisipasi Gempa di Kalimantan
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat di Kalimantan perlu lebih melek akan potensi gempa. Penyuluhan tentang keamanan rumah dan bangunan, serta langkah-langkah evakuasi adalah hal yang sangat penting.
Pembangunan infrastruktur yang tahan gempa juga harus menjadi prioritas. Masyarakat harus diajarkan tentang teknik pembuatan rumah yang dapat mengurangi risiko kerusakan akibat gempa.
Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana sangat penting. Ini dapat membantu mengurangi risiko dan dampak gempa di masa depan.














