Para pakar iklim kini semakin khawatir akan dampak fenomena berulang yang dikenal sebagai El Nino. Fenomena ini, yang ditandai oleh pemanasan air laut di Samudera Pasifik, bisa berpotensi memberi dampak besar, mulai dari perubahan cuaca hingga gejolak sosial.
Salah satu yang memperingatkan akan hal ini adalah Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Dalam deklarasinya, dia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap fenomena ini, terutama bagi negara-negara yang sering terdampak, termasuk Indonesia.
Fenomena El Nino dan Dampaknya yang Luas
El Nino adalah bagian dari siklus iklim yang disebut El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Perubahan suhu ini dapat memengaruhi sejumlah aspek kehidupan, termasuk ketersediaan air dan stabilitas pangan di berbagai negara.
Dampak yang paling dirasakan adalah penurunan curah hujan yang dapat memengaruhi hasil pertanian. Ketersediaan makanan bisa terganggu, dan ini berpotensi menyebabkan krisis pangan di berbagai wilayah.
Suhu yang lebih tinggi juga bisa berdampak pada kenaikan permukaan air laut. Fenomena ini tentunya menjadi peringatan bagi para pemukim di daerah pesisir yang terancam oleh banjir dan erosi.
Hubungan antara El Nino dan Ketidakstabilan Sosial
Lebih dari sekadar dampak lingkungan, El Nino juga berhubungan erat dengan dinamika sosial dan politik. Berdasarkan penelitian, terdapat hubungan yang signifikan antara peristiwa El Nino dengan berbagai kejadian sosial yang bergejolak.
Sejarah menunjukkan bahwa beberapa peristiwa penting, seperti gerakan sosial dan pemberontakan, sering kali terjadi setelah adanya perubahan iklim yang drastis. Ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca bisa memperburuk ketegangan sosial yang sudah ada.
Pakar mempertimbangkan bahwa gejolak tersebut bisa berakar dari tekanan ekonomi yang ditimbulkan oleh kegagalan hasil panen. Hal ini membuat masyarakat rentan dan berpotensi menyebabkan konflik.
Mengamati Trend La Nina dan Potensi El Nino di Masa Depan
Saat ini, banyak negara tengah mengamati fenomena La Nina yang mendominasi beberapa tahun terakhir. Namun, perhatian juga harus dialihkan pada kemungkinan terjadinya El Nino di masa depan, terutama menjelang tahun 2027.
Kepala BMKG menyatakan bahwa saat ini suhu air laut di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia berada dalam kondisi normal. Namun, para ilmuwan terus memantau fluktuasi suhu yang dapat memicu perubahan iklim tajam.
Kesadaran akan fenomena ini penting, terutama di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim. Dengan pemantauan yang tepat, langkah mitigasi dapat dilakukan lebih awal untuk meminimalisir kerugian yang mungkin terjadi.
















