Perjanjian Paris merayakan ulang tahunnya yang ke-10, didirikan untuk menekan pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, upaya global ini tetap menjadi prioritas utama bagi negara-negara yang sadar akan dampak perubahan iklim.
Koalisi negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, yang dikenal sebagai Koalisi Ambisi Tinggi, berjuang untuk mengimplementasikan target-target ambisius dari Perjanjian Paris. Mereka berharap dapat merangsang tindakan yang lebih berani untuk mengatasi ancaman yang semakin mendesak ini.
Pada COP 2015 yang berlangsung di Paris, delegasi-delegasi internasional mengenakan pin bertuliskan “1,5 untuk bertahan hidup.” Pin ini bukan sekadar simbol, melainkan refleksi nyata akan dampak pemanasan global yang dirasakan oleh banyak wilayah, khususnya daerah yang rentan terhadap banjir.
Target untuk membatasi pemanasan global ke tingkat tersebut sepertinya semakin sulit dicapai, terutama dengan adanya bukti nyata yang menunjukkan bahwa kita telah melampaui batas kritis. Setiap tambahan polusi yang dihasilkan berkontribusi pada penurunan kualitas hidup dan keamanan untuk generasi mendatang.
Meski langkah-langkah yang diambil saat ini belum menghasilkan perubahan yang signifikan sesuai harapan, tetap ada kemajuan yang patut diakui. Disampaikan oleh direktur di Center for Biological Diversity dari sebuah lembaga nirlaba, Jean Su, bahwa perjalanan dari perjanjian ini telah menjadi langkah penting dalam memerangi perubahan iklim.
Ancaman Perubahan Iklim yang Makin Mendesak di Dunia
Dampak perubahan iklim telah menjadi masalah global yang mendesak, dengan kejadian cuaca ekstrim yang semakin sering terjadi. Badai besar yang melanda Puerto Rico dan Jamaika baru-baru ini menunjukkan kekuatan perubahan iklim yang tidak bisa diabaikan.
Menariknya, meski banyak negara telah mengakui ancaman ini, masih ada beberapa pemimpin yang skeptis terhadap ilmiah mengenai perubahan iklim. Pernyataan kontroversial dari salah satu pemimpin yang menyebutkan perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar” menunjukkan bahwa kesadaran tentang isu ini sangat bervariasi di antara negara-negara.
Langkah-langkah yang diambil oleh pemimpin-pemimpin tertentu, termasuk menolak proyek energi bersih, hanya memperparah masalah yang ada. Begitu banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan masalah nyata yang mempengaruhi kondisi bumi saat ini.
Ironisnya, di tengah penolakan tersebut, para ilmuwan mengungkap dampak yang lebih parah dari yang sebelumnya diperkirakan. Beberapa terumbu karang di seluruh dunia telah mengalami kerusakan yang hampir tidak dapat diperbaiki akibat perubahan iklim.
Meski ada pandangan pesimis dari sebagian kalangan, ada juga sinar harapan. Aktivis iklim menyoroti pergeseran menuju energi terbarukan sebagai langkah positif yang semakin menonjol di panggung global. Transisi ini menjadi lebih nyata, terutama dengan meningkatnya penggunaan sumber energi yang lebih bersih.
Peran Energi Terbarukan dalam Perjanjian Paris
Prestasi energi terbarukan menjadi angin segar di tengah situasi kritis. Penurunan penggunaan batu bara dan gas sebagai sumber energi utama menunjukkan adanya kesadaran kolektif mengenai pentingnya beralih ke energi yang lebih bersih.
Sepanjang tahun ini, diperkirakan bahwa energi terbarukan akan memenuhi sebagian besar permintaan listrik baru di dunia. Penggunaan tenaga angin dan surya semakin meningkat, mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil yang merusak lingkungan.
Pertumbuhan luar biasa ini menunjukkan bahwa transisi ke energi terbarukan berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Para ilmuwan dan aktivis percaya bahwa ini adalah langkah dalam arah yang benar untuk memerangi perubahan iklim secara efektif.
Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas penduduk dunia mendukung tindakan politik yang lebih berani terkait perubahan iklim. Ini menunjukkan bahwa ada suara mayoritas yang ingin melihat perubahan nyata dalam kebijakan lingkungan dan komitmen terhadap Perjanjian Paris.
Di Amerika Serikat, dukungan publik untuk perjanjian ini cukup signifikan, dengan banyaknya pemilih yang menginginkan negarabagian dari solusi global ini. Keinginan ini menjadi modal bagi para aktivis untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif terkait isu lingkungan.
Mobilisasi Orang Banyak dalam Upaya Penanganan Perubahan Iklim
Salah satu langkah yang diambil untuk memanfaatkan dukungan publik ini adalah melalui gagasan perjanjian baru untuk mengurangi polusi yang mempercepat pemanasan global. Melalui ini, negara-negara diharapkan lebih bertanggung jawab dalam pengurangan emisi karbon.
Pernyataan dari sejumlah ahli menyebutkan bahwa langkah tersebut bukan hanya sekedar idealisme, tetapi langkah yang diwajibkan secara hukum. Mahkamah Internasional telah menjelaskan tanggung jawab negara-negara untuk mengambil langkah-langkah dalam mengurangi polusi.
Tentu saja, menuju kesepakatan ini memerlukan kolaborasi yang kuat antar negara dan masyarakat. Educasi yang lebih baik tentang perubahan iklim dan dampaknya mesti disebarluaskan untuk membangun kesadaran yang lebih besar di kalangan publik.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat umum, harapan untuk masa depan yang lebih hijau semakin kuat. Masyarakat harus terus menuntut tindakan nyata dari pemimpin mereka untuk memastikan keberlangsungan planet kita.
Dengan segala perencanaan dan komitmen ini, diharapkan bahwa dalam waktu dekat, dunia dapat menuju kehidupan yang lebih sehat dan mapan. Setiap individu, negara, dan organisasi diharapkan berkontribusi dalam menjalankan misi bersama ini.














